Remah-Remah Pesta Pikiran

Wednesday, August 30, 2006

Kalau Aku Bunga (mungkin..)

Kalau aku bunga..

Aku pasti bukan bunga mawar

yang berduri dan sulit didekati

aku bukan melati

yang putih bersih dan harum mewangi
bukan juga famous edelweis

yang tiada pernah mati

aku bukan rerumputan

yang pasrah diinjak kaki

mungkin aku ini bunga matahari

yang tegak berdiri

selama sinarmu menghangati hari

dan selama mentari masih mau

membelai wajahku..





Dibuang Sayang Mending Dipajang

Ini.. sekedar tulis-tulis iseng.. tadinya mau jadi kayak cerita gitu.. malah jadi gini, apa mau dikata.. mari kita namakan ini : DIBUANG SAYANG MENDING DIPAJANG! ^_^ Maybe some of you ever felt this way? i think MANY PEOPLE DID..

..K A G U M..

Bagaimana aku bisa menuliskan tentang perasaanku ini. Bagaimana aku mendeskripsikan kekaguman ini. Dengan apa bisa kugambarkan, atau berapa kata yang harus kutumpahkan hingga mencukupi besarnya kagumku akan dia. Aku mengagumi dia bahkan sebelum dia melihat diriku sebagai aku. Aku mengagumi dia saat dia tidak menyadari keberadaanku. Aku mengaguminya lebih besar dari semua kekaguman yang pernah menyinggahi hatiku. Aku mengaguminya saat dia begitu jauh dari jangkauan jari-jari hatiku. Aku menuliskan puisi tentang dia hampir setiap hari. Aku tetap mengagumi dia sekalipun aku tak memiliki alsan untuk mengaguminya. Dia tidak tampan, dia tidak hebat, dia tidak tinggi, dia tidak putih. Dia tidak terlalu ramah dan tidak terlalu lucu. Dia tidak terlalu akrab denganku, dan umurnya jauh di atasku. Dia menyebalkan karena lebih sering mengatakan hal yang
buruk daripada yang baik tentang aku. Bisakah ini kujadikan alasan yang tepat untuk mengagumi seseorang? Mengagumi seseorang dengan teramat sangat..
Aku berharap jarak antara aku dan dia kian hari bisa semakin kecil. Walaupun aku terlalu takut untuk berusaha memperkecil jarak itu. Aku berharap suatu hari dia bukan lagi sesuatu yang tak mungkin teraih. Walaupun aku terlalu takut untuk memanjangkan jemari hatiku untuk meraihnya. Aku memimpikan diriku dapat dekat dengan dia hampir setiam malam. Walaupun aku terlalu takut untuk mencoba menggapainya dalam kenyataan hari.

..DUA TAHUN..

Itulah pertama kalinya aku diberi kesempatan untuk merasakan cinta. Setidaknya begitulah yang kurasa saat itu. Cinta yang begitu penuh rasa kagum dan sayang. Sayang yang tak memerlukan alasan untuk memuja dirinya. Sayang yang membuatku tersenyum lalu menangis, menagis lalu tertawa dalam satu hari. Sayang yang membuatku bermimpi dan mengajarkanku barharap. Cintaku, cukup aku dan hatiku yang tahu. Aku tak ingin dia tahu tentang hatiku. Aku terlalu takut untuk itu.. Kalau begitu betapa anehnya aku! Bagaimana aku boleh berharap untuk memilikinya jika cintaku kukurung aman-aman di dalam diriku sendiri? Kujalani hari-hariku mencintai dia tanpa alasan dan tanpa beban. Kujalani hariku dengan selalu berharap bisa memilikinya. Harapan yang juga tidak beralasan. Namun kurasa hatiku tidak memerlukan alasan untuk semua yang dia rasakan. Semua masih ku simpan rapih-rapih di dalam diriku. Kadang kutuangkan dengan indah ke dalam buku puisiku. Lebih sering kutumpahkan mentah-mentah dalam buku diariku. Semua kurasakan sendiri,kusimpan sendiri. Semua kutulis sendiri, dan aku juga yang membacanya sendiri. Dia begitu dekat dengan diriku.. kami bercanda kami tertawa. Kadang kami bernyanyi bersama, itulah saat-saat terindah dalam hariku. Terkadang dia memberi sentuhan-sentuhan kecil yang berarti sangat besar untukku. Di ujung rambutku, atau di pipiku, sekilas saja. Tetapi bagi hatiku dia tetap sesuatu yang terlalu sulit untuk dimiliki hanya olehku. Mungkin dia hanya seseorang untuk dikagumi, atau hanya seorang teman yang sangat ramah. Dengan caraku yang sangat tidak ekspresif, aku memaksa hatiku untuk terus berharap. Bahkan dibatas akhir harapku, aku memaksa hatiku untuk berhenti mengiginkannya. Bukankah cinta yang tulus tidak menginginkan apa-apa kecuali mencintai? Maka kepasifanku mulai berusaha merubah cintaku menjadi cinta tulus. Aku mulai mengajari hatiku untuk menjadi benar-benar tulus. Aku membuang harapan-harapanku, dan mengajari hatiku untuk bahagia hanya dengan menyayangi dia. Maka di sinilah aku sekarang. Kujalani hari-hariku mencintai dia dengan tulus. Sampai pada saat ini, tahun kedua penantianku yang kini bukan lagi penantian. Karena aku tak lagi menanti.. Karena aku kini hanya menjalani.. Karena aku tulus…

puisi ini gue tulis tanggal 24Maret2002
udah lama banget ya?waktu itu zamannya gue punya cowok yang gak ngerti gimana caranya menyayagi orang.. hehehe.. he didn't know how to show his love..dulu sih gw sering mengasihani diri gw..
tapi stlh dipikir2.. yang perlu dikasihani itu dia..

Di larutnya malam sendiri
Hanyut aku dalam lautan rinduku
Dan siapakah kan menolongku kini
Membawaku menepi ke pantai cinta?

Satu-satu nafasku
Sesak di sini dadaku
Ragaku sepi tanpa jiwa
Jiwaku pergi menggapaimu

Tapi sia-sia..
Lelah yang ada di jiwa
Aku hanyut dalam lautanku
Dan adakah kau di situ, sayangku?

Kunanti dengan sabar hadirmu
Di dasar lautan rindu
Dan akankah berakhir perihku?

Kau adalah separuh diriku
Datanglah renangi hatiku
Datang dan utuhkan aku!

Di dasar lautan rindu
Kunanti hadirmu
Tak kan surut rindu ini
Bahkan meluap dari hati

Di dasar lautan rindu
Kan kupeluk dirimu
Jangan jauh dariku
Hampa di sini tanpamu..

Tak Berjudul

Hal yang kubenci adalah aku sangat mencintaimu.
Dan sangat menyedihkan saat aku sendiri merindukanmu..
Aku tak mau kau begitu berpengaruh di diriku.
Aku benci diriku yang lemah di hadapanmu.
Dan menyebalkan menangis untukmu.
Tapi nyatanya..
Kau terlalu berarti untuk enyah dari hatiku.
Dan jiwakupun tak mengerti mengapa begitu
Karena..
Aku benci merasakan hariku penuh namamu.
Dan menyedihkan rasanya sangat membutuhkanmu.
Kenyataan terburuk adalah..
Kamu bagian diriku
Dan menyedihkan untukku terus menantimu..
c 2002..

Dunia Jatuh Cintalah!

puisi yang gw buat gak tau kapan..
udah lama jugaa..
karena skrg udah kehilangan kemampuan untuk berkata-kata indah.. ^_^

Dunia sudah terlalu gelap warnanya
di sungainya bajir air mata
Di tanahnya penuh rembesan darah manusia
Di udaranya menyebar rintih2 sengsara

Dunia kini lupa akan alfanya
Dan tak lagi perduli akan omega
Semua suara berbeda bunyinya
Dan hati berupa-rupa bentuknya

Rumit sudah yang harusya sederhana
Bertikai semua yang harusnya hidup bersama
Kemanakah manusia yang katanya makhluk berjiwa?
Yang mengemban tugas menjaga dunia

Kemana hembusan kasih Sang pencipta
Sentuhan lembut tangan Mulia yg membentuk kita
Tidakkah ada lagi tersisa dalam diri anak-anak dunia
Hilangkah termakan masa dan nikmat kuasa maya?

Dia yang MAHA MULIA saja mati untuk yang hina?
MatiNYA sama seperti penjahat yg penuh dosa
Mengapa kita berebut tahta megah di dunia?
Kalau yang mulia adalah yang merendahkan dirinya

Dunia sudah terlalu gelap warnanya...
Dan hanya kasih yg mampu memutihkannya
Kalau kita semua sama saja akhirnya
Yang berbeda hanya bentuk hati kita di mataNya
Knapa harus saling cerca?

Bukankah jatuh cinta lebih manis rasanya
Dari pada cemburu buta?

Hanya Aku

hanya dengan senyum ini
ku mau menguatkanmu
hanya dengan tawa ini
ku ingin ceria hadir di harimu

kadang tangisku kelabukan hatimu
sering marahku sisakan sakit untukmu

namun hanya dengan jemari ini
ku mau keringkan tangismu
dan hanya dengan peluk ini
ku ingin hadirkan nyaman di sekelilingmu

kadang hari sukar terlalui
kadang waktu lambat berlalu
beban menekan-nekan di punggung
teriakpun tak lepas lagi
bernafaspun tak melegakan lagi

dekat kemari sayangku
letakkan tanganmu di tanganku
hanya dengan diri ini
aku mau temanimu
hanya dengan hati ini
aku mendampingimu
hanya dengan segenap hidupku ini
aku mau bersamamu melalui setiap hari

hanya aku..
-18Januari2005-

Ibaratkan Hatiku

ibaratkanlah hatiku ini..
kapas berlapis duri
sedang hatimu
hanya berlapis bulu..

betapapun hatiku menyayangmu
ingin dekat dgn hatimu
selalu berakhir melukaimu

sekalipun hatimu mengasihiku
ingin mendekap erat hatiku
selalu berakhir sakit untukmu

bayangkan bagaimana dengan hatiku
yang selama ini menyaksikan hal itu
terus terjadi padamu
karena hatiku...
??

bayangkan besarnya kebencianku
yang selama ini melihat
diriku terus menghancurkanmu

aku benci
aku benci duri-duriku!
Mengapa harus hatiku dilapisi duri?
Enyahkan saja mereka dariku!!
Enyahkan!
Agar aku bisa
Dekati hatimu
Tanpa melukainya

Betapapun kuminta
Sekalipun kucoba
Enyahkan duri-duri itu..

Hatiku tetap hatiku
Duri itu bagian diriku

Dan haruskah aku menjauh darimu
Menjaga jarak dari sayangmu
Membungkam rinduku akanmu
untuk menjaga hatimu
Tak tersakiti ..
Olehku..

-november 2004-

Puisi di Akhir Hari

aku merasa tak kau pahami
dan kau merasa tersakiti
malam ini..
aku merasa aku sendiri
dan kau merasa ku tak perduli
malam ini..

aku haus dan butuh ditemani
di akhir hari beratku ini
dan adakah pilihan bagiku
yang lebih baik selain dirimu?

Untuk mengeluh
Tuk menangis
Untuk marah
Tuk bermanja
Untuk berbagi tuk temani
Dengan sepercik harapan
Kau buatku tersenyum lagi

Tapi kenapa kita terpojok begini lagi
Malam ini..
Saling menyakiti..

Betapapun hatiku hanya butuh hatimu
Tapi kenapa malam ini..
Hatiku terlalu sempit untuk tak membencimu?

Betapapun sayangmu begitu dalam kutahu
Tapi kenapa malam ini..
hatimu begitu dangkal untuk menampung air mataku?

Hari beratku berkhir malam ini
Aku yang mengakhiri..
Dengan beban yang bertambah berat di hatiku
Dengan menyakitimu,
Dengan rasa benci padamu
Dengan mengecilkan artimu
Dengan membuatmu merasa tak berharga
Dengan membuatku merasa seperti penjahat
Dengan tetap menyayangimu
Tetap membutuhkanmu
Namun takut mendekati hatimu………
-november 2004-