Ini.. sekedar tulis-tulis iseng.. tadinya mau jadi kayak cerita gitu.. malah jadi gini, apa mau dikata.. mari kita namakan ini : DIBUANG SAYANG MENDING DIPAJANG! ^_^ Maybe some of you ever felt this way? i think MANY PEOPLE DID..
..K A G U M..
Bagaimana aku bisa menuliskan tentang perasaanku ini. Bagaimana aku mendeskripsikan kekaguman ini. Dengan apa bisa kugambarkan, atau berapa kata yang harus kutumpahkan hingga mencukupi besarnya kagumku akan dia. Aku mengagumi dia bahkan sebelum dia melihat diriku sebagai aku. Aku mengagumi dia saat dia tidak menyadari keberadaanku. Aku mengaguminya lebih besar dari semua kekaguman yang pernah menyinggahi hatiku. Aku mengaguminya saat dia begitu jauh dari jangkauan jari-jari hatiku. Aku menuliskan puisi tentang dia hampir setiap hari. Aku tetap mengagumi dia sekalipun aku tak memiliki alsan untuk mengaguminya. Dia tidak tampan, dia tidak hebat, dia tidak tinggi, dia tidak putih. Dia tidak terlalu ramah dan tidak terlalu lucu. Dia tidak terlalu akrab denganku, dan umurnya jauh di atasku. Dia menyebalkan karena lebih sering mengatakan hal yang
buruk daripada yang baik tentang aku. Bisakah ini kujadikan alasan yang tepat untuk mengagumi seseorang? Mengagumi seseorang dengan teramat sangat..Aku berharap jarak antara aku dan dia kian hari bisa semakin kecil. Walaupun aku terlalu takut untuk berusaha memperkecil jarak itu. Aku berharap suatu hari dia bukan lagi sesuatu yang tak mungkin teraih. Walaupun aku terlalu takut untuk memanjangkan jemari hatiku untuk meraihnya. Aku memimpikan diriku dapat dekat dengan dia hampir setiam malam. Walaupun aku terlalu takut untuk mencoba menggapainya dalam kenyataan hari.
..DUA TAHUN..
Itulah pertama kalinya aku diberi kesempatan untuk merasakan cinta. Setidaknya begitulah yang kurasa saat itu. Cinta yang begitu penuh rasa kagum dan sayang. Sayang yang tak memerlukan alasan untuk memuja dirinya. Sayang yang membuatku tersenyum lalu menangis, menagis lalu tertawa dalam satu hari. Sayang yang membuatku bermimpi dan mengajarkanku barharap. Cintaku, cukup aku dan hatiku yang tahu. Aku tak ingin dia tahu tentang hatiku. Aku terlalu takut untuk itu.. Kalau begitu betapa anehnya aku! Bagaimana aku boleh berharap untuk memilikinya jika cintaku kukurung aman-aman di dalam diriku sendiri? Kujalani hari-hariku mencintai dia tanpa alasan dan tanpa beban. Kujalani hariku dengan selalu berharap bisa memilikinya. Harapan yang juga tidak beralasan. Namun kurasa hatiku tidak memerlukan alasan untuk semua yang dia rasakan. Semua masih ku simpan rapih-rapih di dalam diriku. Kadang kutuangkan dengan indah ke dalam buku puisiku. Lebih sering kutumpahkan mentah-mentah dalam buku diariku. Semua kurasakan sendiri,kusimpan sendiri. Semua kutulis sendiri, dan aku juga yang membacanya sendiri. Dia begitu dekat dengan diriku.. kami bercanda kami tertawa. Kadang kami bernyanyi bersama, itulah saat-saat terindah dalam hariku. Terkadang dia memberi sentuhan-sentuhan kecil yang berarti sangat besar untukku. Di ujung rambutku, atau di pipiku, sekilas saja. Tetapi bagi hatiku dia tetap sesuatu yang terlalu sulit untuk dimiliki hanya olehku. Mungkin dia hanya seseorang untuk dikagumi, atau hanya seorang teman yang sangat ramah. Dengan caraku yang sangat tidak ekspresif, aku memaksa hatiku untuk terus berharap. Bahkan dibatas akhir harapku, aku memaksa hatiku untuk berhenti mengiginkannya. Bukankah cinta yang tulus tidak menginginkan apa-apa kecuali mencintai? Maka kepasifanku mulai berusaha merubah cintaku menjadi cinta tulus. Aku mulai mengajari hatiku untuk menjadi benar-benar tulus. Aku membuang harapan-harapanku, dan mengajari hatiku untuk bahagia hanya dengan menyayangi dia. Maka di sinilah aku sekarang. Kujalani hari-hariku mencintai dia dengan tulus. Sampai pada saat ini, tahun kedua penantianku yang kini bukan lagi penantian. Karena aku tak lagi menanti.. Karena aku kini hanya menjalani.. Karena aku tulus…